Thursday, December 29, 2011

TENTANG MELODIC METAL & NAMA-NAMA BAND MELODIC METAL

Monday, December 19, 2011

TENTANG BONDAN & FADE 2 BLACK


Bondan Prakoso (lahir 8 Mei 1984; umur 27 tahun) adalah pemusik Indonesia yang mengawali karier bermusik sebagai penyanyi cilik di tahun 80-an. Berkat album Si Lumba-lumba namanya melambung. Alumni D3 Sastra Belanda Universitas Indonesia ini memulai karier remaja dan dewasanya saat membentuk band Funky Kopral ditahun 1999 hingga tahun 2002. Kini ia membentuk band baru bernama Bondan Prakoso & Fade 2 Black.

Profil

Bondan Prakoso adalah anak kedua dari tiga bersaudara pasangan dari Lili Yulianingsih dan Sisco Batara ini mengawali kariernya sebagai penyanyi cilik di era 80-an hingga awal tahun 90-an. Album perdananya yang bertitel Si Lumba-Lumba sukses dipasaran dan mencuatkan namanya.
Ditahun 1999, Bondan membentuk band Funky Kopral , sebagai bassist, hingga merilis 3 buah album. Bahkan album kedua band ini diganjar penghargaan AMI Sharp Awards ditahun 2001 untuk kategori Group Alternatif Terbaik. Ditahun 2003, Funky Kopral merilis album ketiga mereka dengan kolaborasi bersama Setiawan Djodi dengan hits singel Tokek dan lagi-lagi diganjar penghargaan AMI Sharp Awards ditahun 2003 untuk kategori Kolaborasi Rock Terbaik.
Sayang, setelah album ketiga dirilis, ia mengundurkan diri dari Funky Kopral. Hingga ditahun 2005 ia memebentuk band baru bernama Bondan Prakoso & Fade 2 Black dengan genre musik Pop Rock yang dipadu dengan Rap. Dengan band barunya ini, Bondan diganjar penghargaan serupa, yakni AMI Sharp Awards ditahun 2008 untuk kategori Group Rap Terbaik.
Sebelumnya, ditahun 2006 Bondan bersama 12 orang pemain bass dari berbagai band di Indonesia seperti Thomas "GIGI", Rindra "Padi", Bongky "BIP", Adam Sheila on 7 dan bassis Indonesia lainnya diganjar penghargaan oleh MURI untuk penghargaan Penampilan Bassis terbanyak dalam satu panggung.

Kehidupan pribadi

Pada tanggal 17 Desember 2007, Bondan menikahi kekasihnya yang bernama Margareth atau yang akrab disapa Margie yang bertempat di Restoran Cibintung, Ciputat, Tangerang, dengan mas kawin berupa seperangkat alat salat dan 17 gram emas. Dan dikaruniai seorang putri yang bernama Kara Anabelle Prakoso.

Diskografi

  • Solo
    • 8 buah album anak-anak (1988-1995)
    • Phsycadelic Sub Rythim (Bass Heroes)
1.Please Dong Ahh(Bersama Rio Saharja)
2.Bunga
3.Feel's Like Home
4.Hidup Berawal Dari Mimpi
5.Siapa
6.Realistic
7.It's All About Soul(Bersama Rio Saharja)
8.Stay On The Line
9.Jazzy Tringual(Besama Rio Saharja)
10.1234
11.Cahya Cinta Sejati
1.Keroncong Protol
2.Xpresikan
3.Kau Puisi
4.Gusti Dewata Mulia Raya
5.Rock On The Beat
6.R.I.P(Rhyme In Peace)
7.Unity
8.Waktu
9.U'll Sorry
10.Rezpector
11.Last But Not Least
12.Wrong Way
13.Microphone XXX
1. Ya Sudahlah
2. Good Time
3. Tetap Semangat
4. Sang Juara
5. Bumi ke Langit
6. Not With Me
7. S.O.S
8. For All
9. Terinjak Terhempas
10. Kita Selamanya
11. Tidurlah

Friday, December 16, 2011

TENTANG KORN


Ini adalah sedikit uraian tentang sejarahnya KoRn si Godfather of NuMetal. Ini diambil dari archivenya hasil googling in my bat-time (begadang) tadi malam. Dan gambar diatas juga hasil googling, yang saya temukan disitus yang diambil saat KoRn konser dijakarta 5 februari 2004 kemarin. Berikut kutipan tentang sejarah awal mulanya Korn :
——-
Cerita tentang KoRn bermula sekitar 15 tahun lalu.
Persisnya saat Fieldy, Munky, dan David, yang sama-sama kelahiran Bakersfield, California, Amerika Serikat, itu sepakat membentuk sebuah band dan berkarier di jalur musik. Tidak seperti sekarang, band yang diberi nama L.A.P.D (singkatan dari Love And Peace Dude) itu awalnya berkutat di jalur funk alternatif semodel Faith No More atau Red Hot Chili Peppers.

Sempat mereguk sukses di lokalan Amerika dan beberapa negara Eropa, karier L.A.P.D terhenti setelah merilis hanya satu album, Who’s Laughing Now? (1991). Penyebabnya tak lain lantaran perilaku para personelnya yang “ajaib”. Hobi betul mereka merusak backstage mereka sendiri. Lebih ajaib lagi, mereka menganggap bahwa semua itu adalah salah satu cara yang efektif untuk mendapatkan publikasi dan sorotan media!
Tentu saja hal itu merepotkan semua pihak yang terlibat. Manajemen serta, tentunya, label yang menaungi mereka. Hingga sampai pada satu titik, pihak label tak tahan lagi lalu langsung memutuskan kontrak.
Pemutusan kontrak itu berefek pula pada bubarnya formasi L.A.P.D, yang sebenarnya sangat menjanjikan. Vokalis mereka saat itu, Richard Morral, terlanda stres berat, dan serta-merta mengundurkan diri.
Untungnya, kehilangan kontrak label plus vokalis tidak menyurutkan semangat. Mereka tetap kukuh melanjutkan cita-cita. Bahkan, dengan penuh percaya diri Fieldy cs merekrut Brian Welch, seorang karib yang kerap menjadi roadies mereka kala L.A.P.D masih berjaya, untuk dijadikan tandem Munky di sektor gitar.
Bersamaan dengan masuknya Brian, mereka pun sepakat buat mengubah warna musik yang diusung. Dari funk alternatif menjadi metal yang lebih agresif.
Lewat satu pertemuan yang tak direncanakan sebelumnya, kuartet ini akhirnya menemukan orang yang tepat untuk mengisi posisi vokalis. Jonathan Davis namanya.
Juga kelahiran Bakersfield, cowok yang saat itu sudah mempunyai pekerjaan tetap sebagai asisten bedah mayat di rumah mayat Kern County itu ditemukan saat sedang tampil di panggung bersama bandnya, SexArt.
Terkesan oleh penampilan dan suara Jon malam itu, Fieldy cs langsung saja memutuskan untuk “membajak”-nya menjadi vokalis mereka. Tidak membutuhkan waktu lama, Jon langsung bilang,”Ya!”
Pilihan yang memang, pada akhirnya, terbukti sangat tidak salah. Pasalnya, selain punya karakter suara yang begitu menyatu dengan musik Fieldy cs, Jon juga punya segudang masa lalu plus pengalaman hidup yang cukup kelam. Pengalaman yang bisa digali lalu dijadikan sumber inspirasi bagi deretan lirik-lirik lagu mereka nantinya.
Ngetop karena kelam
Adalah pertemuan ini juga yang akhirnya membuat musik mereka jadi terasa unik. Bagaimana tidak? Groove-groove bernuansa funky, yang selama ini lebih terasa pas mengiringi musik bernuansa ceria, dipadu dengan besetan gitar distortif yang sengaja dibuat bersteman rendah membalut lirik-lirik yang sama sekali tidak ceria, namun justru sebaliknya, sangat gelap dan mencekam. Saat itu, kecuali Creep (nama mereka sebelum akhirnya diubah menjadi KoRn), tak ada satu band pun yang maju dengan kombinasi sedemikian kontras.
Begitulah. Tiga tahun setelah pertemuan itu, album debut KoRn pun dirilis. Bermodal singel sangar macam Blind dan Daddy, kemunculan mereka seakan membuka keran bagi gelombang metal jenis baru: NuMetal/hip-metal!
Ya. Enggak lama kemudian, langkah dan formulasi yang diracik oleh para personel KoRn langsung ditiru oleh bermacam band. Pemakaian gitar tujuh senar seakan satu keharusan bagi para gitaris metal. Lirik-lirik straight forward yang isinya melulu tentang kepedihan, kemarahan, raungan, serta kemurungan menjadi satu keharusan bagi para vokalis. Dan, tiap-tiap basis atau drumer yang ingin kiprahnya dilihat harus mampu membentuk groove-groove layaknya para musisi hip hop, R&B, atau funky!
Jago mengorganisir konser
Ternyata mereka juga jago mengorganisir konser. Belakangan, hasil kerja mereka menjadi salah satu contoh konser sukses karena kemasannya yang unik. Diberi nama Family Values Tour (FVT), tur tahunan itu mulai digelar pada tahun 1998. Sampai sekarang, FVT masih tetap berlangsung dan masuk dalam daftar tunggu metalheads di Amerika setiap tahunnya.
Keistimewaan tur ini enggak lain lantaran kekuatan para pengisi acaranya. Biarpun tidak terlalu beragam, namun line up yang disusun Jonathan cs mampu mewakili dua kubu yang tadinya dianggap saling berseberangan: metal dan hip hop. Untuk putaran pertama tahun 1998, selain mereka sendiri, Jonathan cs menggamit Ice Cube, Limp Bizkit, Orgy, dan Rammstein.
Selain faktor pengisi acara, sikap simpatik yang ditunjukkan oleh KoRn sebagai penyelenggara yang membuat ajang ini menyedot begitu banyak penonton dan menjadi satu rangkaian tur yang paling ditunggu. Bayangkan saja. Untuk sajian berdurasi sekitar 6-7 jam lengkap dengan pengisi acara nan paten plus atraksi laser dan panggung yang megah, penonton hanya dikenai tiket seharga 30 dollar AS. Sebagai perbandingan, harga tiket untuk konser sejenis saat itu yang termurah berkisar antara 75-85 dollar AS!
Sudah barang tentu hal itu makin melambungkan nama KoRn di mata para penggemar metal. Keberpihakan mereka terhadap fans dianggap sangat jelas. Begitu pun posisi mereka yang dianggap “terhormat” di antara band-band sealiran lainnya. Saat album ketiga, Follow The Leader (1998), dirilis, KoRn praktis sudah menjadi semacam Godfather of NuMetal!
Yap. Disadari atau tidak, dalam perjalanannya, KoRn tergiring masuk ke dalam golongan band-of-the-band. Band yang tak butuh lagi number one hit di berbagai negara untuk dapat diakui. Band yang tak terlalu peduli bahwa albumnya tak lagi mencetak angka penjualan jutaan kopi, melainkan band yang kerap menjadi inspirasi band lainnya untuk berbuat sama. Band yang ada untuk fans dan selalu berorientasi pada kepuasan fans!
Mengerjakan album sendiri
Berbekal prinsip-prinsip dasar band-of-the-band (serta sedikit banyak pengalaman buruk Untouchables) itulah, hampir sepanjang tahun 2003 dihabiskan oleh Jonathan cs di dalam studio, meracik formulasi buat Take A Look In The Mirror.
Tak lagi dibantu oleh produser di luar band–seperti yang biasa mereka lakukan di lima album sebelumnya–kali ini seluruh proses produksi mereka kerjakan sendiri. Mulai dari perumusan konsep, membentuk komposisi dasar, hingga aransemen utuh. Adalah Jonathan yang kemudian didaulat untuk memegang kendali seluruh proses produksi.
“Ah, saya enggak pernah merasa sebagai leader of the band. Dari dulu KoRn adalah milik kami bersama. Dan karenanya masing-masing berhak menjadi bos. Posisi saya selama pembuatan Take A Look…, bisa dibilang hanya sebagai cheerleader. Yang menyemangati dan mendorong teman-teman untuk melakukan yang terbaik!” bantah Jonathan.
Apa pun yang dikatakan oleh Jonathan, yang jelas, pola kerja seperti itu terbukti ampuh. Setidaknya, menurut Jonathan, lebih efisien waktu dan biaya, dengan hasil yang setara, bahkan bisa jadi lebih dari yang dicapai lewat Untouchables.
“Kami enggak lagi mengandalkan open chorus yang megah, melainkan kembali kepada riff-riff yang mengentak, yang jadi ciri khas kami selama ini,” jelas Fieldy.
“Ya. Selama pembuatan album ini, kami selalu berorientasi pada penampilan panggung. Soalnya, materi dari Untouchables terbukti lebih membosankan di atas panggung ketimbang menyenangkan bagi fans!” ujar Munky gemas.
“(Musik) KoRn adalah untuk fans KoRn!” tegas Jonathan. “Kami enggak peduli seberapa banyak album kami ini bakal terjual nantinya. Mau sepuluh juta, sepuluh ribu, atau hanya sepuluh keping pun enggak akan ada bedanya buat kami. Yang terpenting adalah kami dan tentunya fans kami senang dan puas dengan apa yang sudah kami buat!” tambahnya.

TENTANG JAKARTA FLAMES




Kita dibentuk kembali pada tahun 2001. Kami telah melalui beberapa anggota pertukaran dan sejak tahun 2003 dengan anggota 2 masih asli hanyalah: Niki anak (Guitar / Vocal) dan Reza (Vokal) + yang 3 baru muskateers (haha!), Kami berada di paling subur diharapkan bentuk bayi sampai sekarang! awalnya dibentuk di bawah pengaruh garis alternatif screamo melodis, maka kita melahirkan sebuah EP pada tahun 2005, setelah itu, ada pasang surut jumlah internal dan eksternal, bla bla bla bla .. yaddy yaddy da da .. bum! sini kita berada di tahun 7 bendera kita, 3 tahun setelah EP 1, kami akhirnya mulai merasa bahwa darah segar berjalan melalui pembuluh darah kita lagi, kegembiraan, adrenalin dari musikalitas kami meskipun kami memiliki karir kita sendiri sekarang, (1 dari kita masih berusaha keras untuk menyelesaikan proyek akhir nya) kita masih bisa bangkit sendiri, dan dengan beberapa tahun terakhir bereksperimen, sekarang kita benar-benar membawa suara baru & selera, mengalami kematangan musik kami, kami berharap bahwa baru kita akan lebih baik dan lebih 'selera' Kami baru-baru ini bekerja keras untuk album mendatang penuh kami atau itu akan menjadi EP yang lain kita sudah selesai merekam 3 lagu baru (vokal dikurangi n pencampuran)!? MENUNGGU UNTUK AKHIR TAHUN INI! Jadi tolong beri kami dukungan di sepanjang jalan! danke!

TENTANG GIGI BAND

Gigi adalah nama sebuah grup musik yang berasal dari Bandung, Indonesia yang mengusung jenis musik pop dan rock. Kelompok ini berdiri pada tanggal 22 Maret 1994, dengan format awal Aria Baron, Thomas Ramdhan, Ronald Fristianto, Dewa Budjana dan Armand Maulana.
Setelah berkiprah selama 11 tahun di blantika musik Indonesia, kelompok ini telah mengalami pergantian personil berkali-kali. Format terakhir (saat ini) kelompok ini adalah:

Sejarah


personil awal Gigi.
Grup Band Gigi resmi dibentuk pada tanggal 22 Maret 1994. Pada awalnya Grup Band ini terdiri atas Armand Maulana (vokalis), Thomas Ramdhan (bassis), Dewa Budjana (gitaris), Ronald Fristianto (drummer)"EVO Band" , dan Baron Arafat "Baron Soulmate" (gitaris). Nama "Gigi" sendiri muncul setelah para personilnya tertawa lebar mengomentari nama "Orang Utan" yang nyaris dijadikan nama band ini. Dengan latar belakang musik yang beda-beda, mereka menggabungkannya ke dalam satu musik yang menjadi ciri khas Gigi. Album perdana yang bertema "Angan" dilempar ke pasaran dengan dukungan dari Union Artist/Musica. Pada waktu itu Gigi belum membentuk suatu manajemen artis untuk mengelola kegiatan mereka sehingga untuk mempromosikan album perdana itu, mereka merilis dua single yang sekaligus video klip, yaitu Kuingin dan Angan. Tetapi kedua lagu andalan tersebut tidak banyak mendongkrak angka penjualan. Kurangnya promosi dan tidak adanya pengelolaan manajemen menjadi penyebab utama kegagalan album pertama group musik ini.
Akhirnya mereka membentuk Gigi Management supaya mereka menjadi lebih profesional. Album kedua "Dunia" terbilang sukses di pasaran. Dengan mengandalkan lagu unggulan pertama "Janji", yang terjual sekitar 400.000 copy serta meraih penghargaan sebagai "Kelompok Musik Terbaik". Pada saat ini manajeman Gigi terjadi keretakan dengan Baron. Video klip lagu andalan kedua "Nirwana" dibuat tanpa adanya Baron. Pada September 1995, Baron secara resmi keluar dari Group Band Gigi. Kemudian diikuti keluarnya Thomas dan Ronald yang bulan November 1996. Akhirnya Grup Band Gigi hanya tinggal berdua saja namun tetap berusaha bertahan dan merekrut Opet Alatas (bassis) dan Budhy Haryono drumer). Formasi baru ini memberi warna baru pada Gigi. Pada tahun 1997 mereka mengeluarkan album keempat yang bertema 2x2 dengan menggandeng sejumlah musisi kondang, lokal dan dunia, Antara lain Billy Sheehan (Mr. Big) yang menyumbang permainan basnya yang dahsyat pada lagu mereka (Cry Baby), dan Indra Lesmana juga ikut menyumbang dalam lagu "Tractor". Lagu andalan "Kurindukan" ternyata kurang direspon masyarakat. Keadaan ini tertolong sama dengan adanya tur 100 kota yang menampilkan duet Indra Lesmana dan Gilang Ramadhan sebagai pembukanya.
Sementara itu Thomas yang baru saja keluar dari rehabilitasi kembali ke Jakarta untuk mulai bermain musik lagi. Thomas bahkan membuat kejutan dengan menjadi bintang tamu di konser GIGI "Satu Jam Bersama Gigi" dan konser Gigi di Bandung, dengan bermain bersama di lagu "Janji" dan "Angan". Di konser itu Gigi serasa bernostalgia dengan Thomas, bahkan mereka membawakan satu lagu yang jarang dimainkan yaitu Hasrat.
Pada tanggal 22 Maret 1999 akhirnya Thomas masuk lagi ke Group musik Gigi. Tak lama setelah itu Gigi merilis album keenam yang berjudul "Baik" pada bulan April 1999. Lagu andalan pertamanya adalah "Hinakah".

Diskografi

Album utama

Tahun Judul Angka penjualan
1994 Angan
1995 Dunia
1996 3/4
1997 2 x 2
1998 Kilas Balik
1999 Baik
2001 Untuk Semua Umur
2003 Salam Kedelapan
2006 Next Chapter
2007 Peace, Love & Respect
2009 Gigi
2011 Sweet 17

Album lainnya

Tahun Judul Angka penjualan
2000 The Greatest Hits Live
2002 The Best of Gigi
2004 Ost. Brownies
2004 Raihlah Kemenangan
2005 Raihlah Kemenangan Repackage
2006 Pintu Sorga
2008 Jalan Kebenaran
2010 Amnesia

Album solo

Selain album-album di atas, beberapa personel Gigi juga telah merilis album solonya sendiri-sendiri. Beberapa album solo yang telah dirilis antara lain:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Online Project management